oleh

Petani Siap Demo Akibat Sulitnya Pupuk Bersubsidi

LEBAK – Disaat musim tanam padi sekarang ini para petani tidak mendapatkan pupuk bersubsidi padahal ia sudah terdaftar di e-RDKK dan memiliki Kartu Tani “ Hal ini dirasakan oleh para petani di wilayah Kabupaten Lebak bagian Selatan, Provinsi Banten.

“ Kemak (44) Salah seorang petani asal Desa Parungsari, Kecamatan Wanasalam, ia mengatakan kepada Bungasbanten.id –Group siberindo.co “ bahwa menurutnya Kartu Tani yang ia miliki hanya sebuah kartu yang belum bisa dirasakan manfaatnya saat ini. Pasalnya, pupuk subsidi yang dinantikan tak kunjung didapat.

“Lanjut ia ,Saya sudah memiliki Kartu Tani, luas lahan sawah saya 10 kotak (8.000 M2), saat ini musim tanam tapi belum mendapatkan pupuk subsidi. Sudah konsultasi ke kelompok tani, persyaratan juga sudah di kirim ke kios, sudah seminggu menanam padi,” Terang Kemah.

Baca Juga  BPJS Ketenagakerjaan Cimone Jalin Kerjasama dengan BPS Kota Tangerang, Berikan Perlindungan Kepada 3.138 Petugas Regsosek

Terkait keberadaan pupuk non subsidi, Kemah mengaku tidak mampu untuk membeli karena harganya mahal.

“Pupuk yang mahal itu (non subsidi) tiap warung juga banyak, tapi harganya melambung gak terjangkau kalau dipaksakan dibeli ya rugi. Harga padi sekwintal hanya Rp 450.000,- sedangkan urea non subsidi per kwintal Rp 700.000,-,” ungkap Kemah, di rumahnya, Jum’at (04/12/2020).

Ia pun pasrah dengan langkanya pupuk bersubsidi. Sebab, jika memaksakan untuk membeli pupuk non subsidi harga tidak terjangkau dan akan rugi.”Yah, mau nyari aja pupuk bersubsidi,

Baca Juga  Promosikan Kerja Sama Perdagangan, Kemaritiman, Industri dan Pariwisata

Tetangga pun belum mendapatkan pupuk subsidi, sementara hanya pasrah. Kalaupun tidak ada berarti tidak dipupuk, ada juga pupuk nonsubsidi gak terjangkau. Kayak dulu mah pupuk subsidinya lancar, tahun ini doang nih yang gangguan, kartu tani udah punya selama 3 tahun, tapi tahun ini mah sulit,” Imbuh Kemah.

Begitu juga Endang yang kerap disapa Jamri, warga Desa Parungpanjang Kecamatan Wanasalam, menuturkan, kalau Pemerintah siap menampung (membeli_red) dengan harga Rp 1 juta per kwintal, “Maka kami siap membeli pupuk non subsidi yang harganya mahal,” kata dia.

Jamri pun mengungkapkan kekecewaannya dan berkeinginan untuk menyuarakan keinginannya melalui aksi, “Pengen demo cuma gak ada yang bisa, masyarakat mah siap yang penting ada korlapnya, jadi hartina kulantaran teu ngarti hukum (jadi, karena gak mengerti hukum) buled pokokna mah hayang demo (bulat pokoknya mah ingin demo) Ngan teu ngarti (cuma gak ngerti),” pungkas dia, sembari mengungkapkan bahwa ia pun sudah mendaftar di e-RDKK.

Baca Juga  Dukung Pengentasan Stunting, Kemenkumham Gelar Bakti Sosial di Kabupaten Lebak

Menanggapi hal itu, Galih Januar Pamungkas, Aktivis Muda asal Lebak Selatan, mengatakan kesiapannya untuk keluhan petani tersebut.

“Siap mengawal petani untuk aksi namun alangkah lebih baik nya duduk bareng dulu antara petani dan Instansi terkait dalam waktu dekat saya akan menemui petani untuk mendiskusikan langkah apa yang harus dilakukan,” tandas Galih.  *(UZEX)

News Feed