Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan adanya potensi Banjir rob di beberapa kawasan termasuk Jawa bagian utara, khususnya Jakarta. Rob adalah Banjir yang terjadi akibat naiknya permukaan air laut menuju daratan di sekitarnya.
“Nanti ketika memasuki fase bulan purnama kembali antara 18-22 Desember, disitulah kondisi Banjir rob bisa terjadi di daerah-daerah pesisir, seperti di Sulawesi Utara, Jawa bagian utara, Kepulauan Natuna dan juga di Sulawesi,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Rajab, dalam konferensi pers bersama BNPB Indonesia, Jumat (10/12/2021) dilansir beritasatu.com.
Menurutnya hal yang perlu diwaspadai adalah ketika curah hujan tinggi terjadi bersamaan kondisi pasang maksimum, terjadi rob. Ini patut diwaspadai, termasuk wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Kondisi ini bisa terjadi bersamaan antara kondisi hujan tinggi dengan kondisi pasang air laut pasang maksimum.
Fachri juga mengungkapkan bahwa Indonesia belum memasuki puncak musim hujan. Prediksi BMKG, puncak musim hujan di Indonesia terjadi pada Januari-Februari 2022.
“Puncak musim hujan sendiri kita perkirakan akan terjadi di Bulan Januari-Februari, hampir sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim hujan di Januari-Februari,” urai dia.
Puncak musim hujan diprediksi akan merata di seluruh wilayah Indonesia. Termasuk Sumatera bagian barat, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Kemudian untuk Kalimantan, konsentrasi di Kalimantan bagian tengah. Kemudian untuk Sulawesi, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan juga Gorontalo, Sulawesi Utara. Untuk Papua, di sebagian besar Papua,” jelasnya.
Prediksi BMKG, intensitas hujan akan berkurang pada Februari 2022. Pengurangan intensitas hujan diprediksi terjadi di Riau. Seperti di Riau sudah berkurang hujannya. Namun di selatan dan barat Sumatera masih cukup tinggi.
Hal ini berbeda dengan Sumatera, di Jawa dan daerah lainnya yang curah hujannya diprediksi masih relatif tinggi pada Februari 2022. Kemudian di Jawa masih relatif tinggi, semuanya hujan intensitas tinggi. Disusul Sulawesi dan Papua.
Sebelumnya Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati meminta masyarakat mewaspadai potensi gelombang tinggi dan Banjir rob yang berada di kawasan pesisir atau pinggir pantai. Potensi tersebut bisa melanda kota-kota besar di Indonesia yang berada di wilayah pesisir. Potensi gelombang tinggi 4 hingga 6 meter dan Banjir rob di sejumlah wilayah Indonesia.
“Dampak gelombang tinggi ini terutama terjadi di laut dan di pesisir. Kota-kota besar yang ada di pesisir misalnya Jakarta, Semarang, kemudian juga Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya di sekitar pesisir,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat konferensi pers virtual bertajuk Analisis Informasi Potensi Banjir Rob dan Gelombang Tinggi Perairan, Rabu (8/12/2021).
Menurutnya kota-kota besar tersebut terutama wilayah yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan juga di beberapa titik di laut Jawa. Dijelaskan kondisi cuaca di musim hujan saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti angin la nina, angin muson, serta sirkulasi siklonik.
Dwikorita menambahkan, kecepatan angin di laut akan bertambah menjadi 25 hingga 30 knot (46 hingga 56 km per jam). Tidak hanya itu, ini juga akan meningkatkan tinggi gelombang laut menjadi 4-6 meter. Selain itu saat ini posisi bulan sedang berada dekat dengan bumi, dan akan mempengaruhi pasang surut air laut.
Dia mengungkapkan sejumlah wilayah Indonesia yang akan terdampak pada periode 8-10 Desember 2021. Diantaranya, Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, Provinsi Banten, Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Ternate dan Halmahera, serta Papua Barat dan Papua.
“Nah, khusus untuk Papua Barat itu adalah Papua Barat bagian utara dan Papua adalah Papua bagian utara yang berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik,” ungkapnya.
Maka itu, kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gelombang tinggi dan Banjir rob dinilai perlu untuk mengantisipasi dampak dari gelombang tinggi dan pasang muka air laut tersebut.
“Saat ini, posisi bulan berada sangat dekat dengan bumi. Ini akan menyebabkan volume air laut meningkat dan terjadi pasang naik. Nah hal itu akan terulang lagi pada tanggal 18 hingga 22 Desember akibat adanya fenomena fase bulan purnama,” ungkap dia.
Peristiwa potensi Banjir rob ini berpotensi terjadi di seluruh Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur. Dwikorita menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan pasang air laut.
“Kami menghimbau masyarakat agar selalu waspada atas potensi terjadinya pasang air laut yang akan terjadi nanti,” urai dia.
Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto menjelaskan bahwa kota-kota besar yang terdampak Banjir rob ini terutama yang seamless atau garis pantai dengan wilayah daratannya tidak ada batas.
“Bahwa sebenarnya kita melihat dulu, dampaknya itu kalau gelombang tinggi itu terhadap kota-kota besar, kita lihat kota-kota besar mana yang masih memiliki jarak antara garis pantai dengan tanahnya atau wilayah ketinggiannya,” tutup dia.(*/cr2)










