BANTEN – Pentingnya Kebijakan Rumah Sakit Dalam Mengatasi Masalah Beban Kerja Perawa
Penulis : Ana Nurhani ( Mahasiswa program studi magister keperawatan, Peminatan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia)
Ringkasan Eksekutif
Perkembangan dunia kesehatan yang semakin pesat dengan didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin membuka wawasan dan pengetahuan mengenai kesehatan dan tenaga medis. Hal ini menyebabkan meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan dari perawat.
Sumber daya keperawatan merupakan faktor terpenting dalam pelayanan rumah sakit, karena hampir di setiap negara, hingga 80% pelayanan kesehatan di berikan oleh perawat (Baumann, 2007). Suatu pelayanan dinyatakan baik oleh pasien apabila jasa yang diberikan memenuhi kebutuhan pasien berdasarkan persepsi pasien terhadap pelayanan yang diterima, apakah memuaskan atau tidak memuaskan (Ika Dewi Kartika, 2013).
Pelayanan keperawatan merupakan ujung tombak utama suatu pelayanan kesehatan di rumah sakit dan merupakan cermin utama dari keberhasilan suatu pelayanan kesehatan karena selain jumlahnya yang dominan juga merupakan profesi yang memberikan pelayanan yang konstan dan terus menerus 24 jam kepada pasien setiap hari. Pelayanan keperawatan memberi konstribusi dalam menentukan kualitas pelayanan di rumah sakit. Sehingga setiap upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit harus juga disertai upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan Hal ini harusnya menjadi perhatian yang besar bagi Pimpinan rumah sakit, manajer keperawatan dan stakeholder mengingat profesi perawat dan peran mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan bermutu.
Disisi lain tak jarang manajer keperawatan juga menerima keluhan dari perawat terhadap meningkatnya beban kerja tambahan non keperawatan yang dilakukan seperti mengisi kelengkapan alat kesehatan, melengkapi administrasi kepulangan pasien, pengiriman resep dan pengambilan obat atau alat kesehatan ke farmasi, pengiriman pasien ke radiologi dan laboratorium, ditambah lagi menemani dokter kunjungan kepada pasien dan masih banyak lagi lainnnya. Semua itu notabene bukan merupakan tugas utama perawat, yang mau tidak mau masih menjadi tugas yang dibebankan kepada perawat di rumah sakit. Hal ini berdampak terabaikannya tugas utama keperawatan sehingga kinerja perawat menjadi tidak optimal. Implikasinya bagi manajer keperawatan mengajukan pengusulan kekurangan tenaga perawat dengan menyajikan data-data terkait tugas utama perawat yang sering diabaikan dan tugas perawat non keperawatan yang menjadi beban kerja tambahan bagi perawat di rumah sakit.
Konteks pentingnya masalah
Tuntutan masyarakat terhadap rumah sakit untuk menjamin pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas dan aman bagi pasien serta tuntutan dari profesi perawat tentang beban kerja mereka yang tidak proporsional membutuhkan perhatian stakeholder pelayanan kesehatan, untuk dianalisis dan dicarikan solusinya mengingat pentingnya keselamatan pasien serta keselamatan pegawai dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Beberapa tuntutan ini merupakan isu strategis yang harus segera direspon dengan pembuatan kebijakan agar tidak memperparah permasalahan yang ada.
Apa saja tugas utama perawat yang sering tidak dikerjakan?
Tiga belas tugas keperawatan yang diperlukan namun paling sering tidak dikerjakan yang berhasil diidentifikasi antara lain: pengawasan/kontrol pasien, perawatan hygiene, oral hygiene, manajemen nyeri, memberikan rasanyaman/berbicara dengan pasien, mendidik pasien dan keluarga, perawatan dan prosedur, pengelolaan obat-obatan tepat waktu, menyiapkan pasien dan keluarga untuk discharge (discharge planning, liaisonpenghubung dengan multi-profesional tim dan keluarga), pendokumentasian asuhan keperawatan yang adekuat, mengembangkan atau memperbarui rencana asuhan keperawatan/care pathways, rencana perawatan dan mengubah posisi pasien secara berkala (Sermeus et al. 2011).
Berdasarkan hasil penelitian, tugas keperawatan yang tidak diselesaikan, contohnya pengkajian pasien, pengembangan rencana perawatan dan pelaksanaan asuhan keperawatan yang diperlukan untuk perawatan pasien bahwa perawat profesional tidak dapat menyelesaikan sepenuhnya selama shift kerjanya karena kendala waktu atau sumber daya 46,3% dari waktu perawat profesional dihabiskan untuk tugas-tugas non-keperawatan.
Apa saja tugas non keperawatan yang paling sering menyita waktu perawat?
Tugas-tugas non-keperawatan secara umum dapat dibagi menjadi sembilan kategori: memberikan dan mengambil nampan makanan; merapikan ruang rawat; mengangkut pasien; memesan peralatan/persediaan logistik ruangan; mengambil peralatan/persediaan yang dipesan; mengatur rujukan dan transportasi (administrasi rutin); phlebotomies rutin; mengisi waktu untuk layanan non-keperawatan dan tugas administrasi (Van Tonder 1988, Aiken et al. 2001, Bruyneel et al. 2012). Hasil penelitian, tiga tugas utama non-keperawatan yang dilakukan adalah tugas administrasi, mengatur/mengarahkan rujukan dan transportasi pasien, sedangkan tugas utama keperawatan yang terabaikan oleh perawat adalah memberikan rasa nyaman/bicara dengan pasien, mendidik pasien dan keluarga dan mengembangkan/memperbaharui rencana asuhan keperawatan.
Meningkatnya beban kerja perawat non keperawatan ini merupakan salah satu penyebab terabaikannya tugas-tugas utama perawat yang berorientasi pasien. Berkurangnya waktu perawat untuk melakukan interaksi dengan pasien dan melakukan asuhan keperawatan.
Kritik dan pilihan kebijakan
Melihat kenyataan mengenai beban kerja perawat, belum sejalan dengan Permenkes RI Nomor 33 tahun 2015 Tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan dan peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 80 tahun 2016 tentang penyelenggaraan pekerjaan asisten tenaga Kesehatan, Masih banyak organisasi rumah sakit yang tidak memperhatikan keadaan tersebut. Hal ini berarti bahwa evaluasi kebijakan keputusan menteri kesehatan tersebut yang mengatur tentang penyusunan perencanaan sumber daya kesehatan tersebut belum optimal. Ada kemungkinan bahwa hasil evaluasi dari proses implementasi kebijakan tersebut belum dilakukan dengan baik.
Menjadi penting mengingat dampak yang di timbulkan akibat meningkatnya beban kerja perawat memiliki keterkaitan dengan keselamatan pasien (patient safety), kepuasan pelanggan, kinerja perawat dan kepuasan perawat itu sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi belum optimalnya kinerja perawat salah satunya adalah tingginya beban kerja perawat. Selain itu dampak lainnya yang mungkin timbul akibat meningkatnya beban kerja adalah kelelahan kerja. Kelelahan kerja memberi kontribusi 50% terhadap terjadinya kecelakaan kerja (Setyawati, 2007). Oleh karena itu perlu dikaji ulang permasalah beban kerja perawat sehingga tidak menimbulkan masalah keselamatan pasien dan keselamatan pegawai. Perawat yang memiliki tingkat kelelahan yang tinggi tidak puas dengan pekerjaan mereka . Perawat yang tidak puas dapat mempengaruhi kinerja perawat tersebut .
Kinerja perawat berhubungan dengan mutu pelayanan keperawatan dan pelayanan keperawatan berpengaruh terhadap kepuasan pasien. Kepuasan pasien di sini di pengaruhi oleh kualitas pelayanan yang di berikan oleh perawat dan perilaku perawat selama memberikan pelayanan keperawatan
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung kepada pasien, Beban kerja yang berlebihan dan ketidakmampuan tim mengkoordinir tugas akan menimbulkan konflik antar anggota tim perawat. Beragamnya jenis pekerjaan yang harus dilakukan oleh perawat akan menjadi beban bagai perawat. Beban kerja yang meningkat atau beban kerja yang tinggi juga mempengaruhi beban psikologi dari perawat itu sendiri.
Pengelolaan sumber daya manusia kesehatan khususnya perencanaan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan belum sesuai dengan kebutuhan organisasi dan kebutuhan nyata dilapangan, serta belum berorientasi pada jangka panjang, untuk itu diharapkan agar pemegang kebijakan pelayanan kesehatan di kementerian kesehatan serta pemegang kebijakan pelayanan kesehatan dirumah sakit baik dipusat maupun di daerah untuk dapat mengantisipasi masalah-masalah kesehatan yang mungkin terjadi, karena sumber daya kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayan kesehatan terutama pelayanan kesehatan.
Rekomendasi
Melihat kondisi perawat dan beban kerjanya saat ini, perlu adanya perbaikan atau perubahan kebijakan untuk mengatur peningkatan beban kerja perawat. Rekomendasi dari hal ini adalah perlu dirancangnya kebijakan baru mengenai beban kerja perawat. Karena, pentingnya analisis dan penghitungan beban kerja perlu diperhatikan oleh setiap organisasi penyedia jasa layanan keperawatan. Hal tersebut sangat mempengaruhi kinerja para staf perawat dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya pada proses keperawatan. Para pemegang kebijakan juga perlu memahami beban kerja perawat.
Alternatif kebijakan lain nya membuat pedoman perencanaan kebutuhan tenaga perawat dan asisten perawat serta anggaran biaya agar perencanaan sesuai dengan kondisi ideal yang diharapkan. Karena sudah saatnya stakeholder yang ada di rumah sakit mulai melirik kearah peningkatan profesionalisme untuk mendapatkan kualitas pelayanan yang bermutu. Dengan demikian diharapkan kepuasan pasien dan kepuasan perawat meningkat sehingga kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit pun meningkat.
Referensi
Ayuningtyas. D (2018). Kebijakan kesehatan : Prinsip dan praktik. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.
Permenkes RI Nomor 33 tahun 2015 Tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan
Permenkes RI Nomor 80 tahun 2016 tentang penyelenggaraan pekerjaan asisten tenaga kesehatan










