oleh

Dosen UMP Ciptakan Teknologi Deteksi Dini Kanker Usus

Purwokerto – Sejak 2005 hingga saat ini, Susanti mengabdi menjadi dosen di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia bersama tim peneliti Nottingham for Clinical Research and Training (NICCRAT) terbiasa melakukan riset di bidang diagnostik molekuler.

Dikutip dari Laman resmi Muhammadiyah, Jumat 18 Juni 2021, Susanti mengaku terilhami mendirikan start up PathGen Diagnostik Teknologi untuk menguatkan deteksi dini dan pencegahan kanker usus di Indonesia.

Keahliannya di bidang diagnostik molekuler didapat Susanti saat studi master di Australian National University, Canberra, dengan mendalami program biomedik. Selain itu, Susanti juga melakukan riset angiogenesis tentang pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan untuk sel kanker berpindah tempat.

Baca Juga  Rumah Warga di Kecamatan Picung Tertimpa Pohon

Risetnya kemudian diperdalam kembali setelah berhasil mendapatkan beasiswa doktoral bersama 20 orang lainnya dari The Australian Prime Minister Endevour Postgraduate Award.

Pada tahun 2014 Susanti menderita kanker usus stadium 3. Dirinya sebagai ilmuwan yang meneliti kanker merasa heran mengapa di usianya yang belum menyentuh angka 60-70 tahun dapat terkena penyakit kanker.

Baca Juga  Gerak Cepat, Jasa Raharja Tangerang Lakukan Jemput Bola Percepat Penyelesaian Santunan

Akhirnya ia memutuskan berobat di Yogyakarta. Hal ini membuatnya bimbang untuk melanjutkan studi doktoralnya atau tidak. Akan tetapi, ia batal melanjutkan studi doktrolanya di Australia lantaran mendapatkan beasiswa dari Islamic Development Bank untuk kuliah di School of Medicine Nottingham University, UK.

Ciptoaji, suami Susanti, mendukungnya agar kembali melakukan riset sekaligus menyingkap misteri kanker usus pada usia di bawah 60-70 tahun.

Baca Juga  Spesial Ramadhan, KBRI Bern Gelar Webinar Kosmetik Halal

Tren global menunjukkan pasien kanker usus di usia muda berkisar 8%. Sementara untuk kasusnya di Indonesia jauh lebih tinggi berkisar 35-40%.

Selain itu, sekitar 20% pasien muda kanker usus diketahui akibat kelainan genetik. Sementara 80% lainnya karena faktor yang belum jelas sehingga memotivasi Susanti untuk lebih jauh menyingkap misteri ini.

(*/cr3)

Sumber: satubanten.com

News Feed