oleh

Perhatian Tak Pernah Habis: Mengenang Hj. Nyi Mas Tien Martini

‎SERANG – Di balik sosok besar seorang suami yang berkiprah di ranah publik, ada seorang istri yang senyap menjaga rumah, mendampingi dengan setia, dan menebarkan kasih sayang tanpa syarat. Itulah potret almarhumah Hj. Nyi Mas Tien Martini, istri pendiri Yayasan Informatika/Universitas Serang Raya, yang wafat pada 2024 lalu.

‎Hj. Nyi Mas Tien Martini dikenal sebagai sosok perempuan tangguh sekaligus teladan. Baginya, menjadi istri bukan sekadar mendampingi, tetapi menjaga keseimbangan rumah tangga, mendidik anak-anak, sekaligus memastikan amanah suami di masyarakat tetap terjaga.

‎“Kalau saya melihat ibu itu, mungkin menteri dalam negeri rumah tangga. Ayah bisa tenang bekerja di luar karena tahu rumah aman bersama ibu,” ungkap salah seorang putra beliau, H. Mulya R. Rachmatoellah, Lc., M.Hum.,

‎Semasa hidup, almarhumah tak pernah meninggalkan suami dalam suka maupun duka. Bahkan menjelang wafatnya sang suami, ia tetap setia mendampingi. Setelah itu, ia meneruskan pengabdian dengan mengurus anak-anak, menjaga martabat keluarga, hingga aktif dalam organisasi sosial.

Baca Juga  Wisatawan India Gemar Gelar Wedding Di Bali, Sandiaga Uno Ungkap Fakta Menarik

‎Selama 25 tahun terakhir hidupnya, Hj. Nyi Mas Tien Martini mengurus para istri veteran, menggerakkan kegiatan PKK, hingga mendorong pemberdayaan perempuan. Ia percaya, kekuatan bangsa lahir dari perempuan yang visioner.

‎“Perempuan harus peduli, karena dari merekalah lahir pemimpin. Pendidikan untuk perempuan adalah kunci,” demikian salah satu pesan yang sering ia sampaikan.

‎Meski suaminya seorang tokoh publik, keluarga tetap menjadi pusat kehidupannya. Setiap malam Jumat, ia membiasakan seluruh anak berkumpul untuk membaca Yasin, berdialog, dan berbagi masalah. Dari anak pertama hingga terakhir, semua ditanya kabar sekolah, pelajaran, hingga urusan pribadi.

‎“Kalau sekarang orang bilang calling time, dulu ibu sudah menerapkannya. Setiap pekan ada waktu khusus untuk komunikasi intens,” kenang putranya.

Baca Juga  Ini Makan Siang Kesukaan Bupati Tangerang

‎Kebersamaan keluarga baginya adalah fondasi utama. Tidak heran, makan malam bersama menjadi kewajiban yang dijaga ketat, bahkan di tengah kesibukan.

‎Selain peran domestik, Hj. Nyi Mas Tien Martini juga aktif memberdayakan masyarakat. Ia mendirikan Kursus Kewanitaan Anggrek yang memberikan pelatihan gratis, mulai dari memasak hingga membuat kerajinan dari kerang. Kreativitasnya mengubah potensi sederhana menjadi keterampilan bernilai.

‎Bagi beliau, pendidikan bukan hanya akademik, tapi juga kemandirian dan keterampilan hidup.

‎Ada satu nasihat yang selalu terpatri dalam ingatan keluarga: Cinta Tak Memerlukan Alasan.

‎“Kalau ibu bilang, sayang itu tidak perlu alasan. Jangan cari logika untuk sayang. Sayang itu ya sayang saja,” ungkap sang anak, menirukan pesan terakhir ibunya.

‎Pesan sederhana namun dalam itu kini menjadi warisan nilai bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

‎Bagi keluarga, kepergian Hj. Nyi Mas Tien Martini bukan hanya kehilangan seorang ibu, tetapi juga kehilangan teladan hidup.

Baca Juga  Resmikan Sejumlah Infrastruktur di Jawa Timur, Presiden: Tingkatkan Konektivitas dan Daya Saing

‎Putranya yang pernah menuntut ilmu di Mesir menceritakan bagaimana ia menghabiskan 24 tahun terakhir bersama sang ibu hingga akhir hayatnya.

‎“Kehilangan beliau lebih berat bagi kami, meskipun kami juga kehilangan ayah. Karena ibu adalah sumber perhatian yang tidak pernah habis,” ucapnya lirih.

‎Perjalanan hidup Hj. Nyi Mas Tien Martini memberi teladan bahwa peran seorang istri, ibu, sekaligus pejuang sosial tidak bisa diremehkan. Ia mendampingi suami yang pernah menjabat sebagai pimpinan DPRD hingga Inspektorat Jenderal di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa sekalipun melupakan tanggung jawabnya terhadap keluarga.

‎Kini, haul pertama almarhumah menjadi momentum untuk mengenang dan mempelajari kebaikan-kebaikan beliau.

‎“Udkur Mahasinamotikum – sebutlah kebaikan orang yang telah wafat. Dari ibu, kami belajar bahwa perhatian, cinta, dan pengabdian adalah warisan abadi,” tutupnya.

News Feed