Penulis
Oleh: Finka Adiwisastra (Penulis Buku Mahakarya Untuk Indonesia)
Ada suatu pepatah bahasa Arab yang menyebut bahwa, “Sebaik-baik teman duduk adalah buku.” Itu memang benar adanya bahwa teman yang tak pernah berkhianat sampai kapan pun ialah buku, sebagaimana buku yang ada di genggamanku saat ini ialah buku yang berjudul Diary Azhari:
Menyurati Generasi yang ditulis oleh shohibku dengan nama pena Faris Ibrahim. Buku yang ditulis oleh Faris ini to be honest punya gagasan besar dan aku sebut sebagai suatu kolase peradaban yang sedang menyurati generasi di masa kontemporer dan mengingatkan suatu generasi agar dapat berhati-hati dalam menempuh perjalanan hidup, agar bahtera itu dapat berlayar jauh ke samudera luas dengan dinakhkodai langsung oleh seorang nakhkoda handal dengan falsafah hidup yang ajeg layaknya Malik bin Nabi. Tak hanya berhenti pada perjalanan hidup saja, tetapi buku ini juga banyak membahas persoalan di era kontemporer seperti sekarang ini, sebut saja persoalan agama, politik, budaya, pendidikan, literasi bahkan sampai pada titik bagaimana Faris menampilkan profilnya sebagai seorang imigran impian yang mengembara hingga memburu ilmu pengetahuan di negeri para nabi, lebih tepatnya di Universitas Al-Azhar As- Syarif, Kairo, Mesir.
Diary Azhari: Menyurati Generasi kali ini yang ditulis oleh shohibku, Faris Ibrahim ini begitu piawai meramu bahasa yang baku hingga bahasa yang popular. Aku sudah kenal lama dia sejak aku duduk di bangku SMA atau saat berseragam putih abu-abu, meskipun memang kalau boleh jujur aku bukan shohib terbaik atau teman dekatnya saat SMA sepanjang tiga tahun bersekolah di SMA Terpadu Al-Qudwah. Namun, aku tau betapa cerdasnya Faris dalam kemampuan berbahasa seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, bahkan Bahasa Arab. Hingga pada suatu waktu aku belajar padanya tentang materi Bahasa Arab pada saat menjelang UAS atau Ujian Akhir Semester dengan bertanya padanya hingga meminjam buku yang ia miliki. Background Faris sebagai santri yang sudah nyantri kurang lebih enam tahun di Al-Qudwah Boarding School sejak SMP hingga SMA membuatnya piawai memadukan bahasa yang efektif dan efisien, pantas saja jika khazanah keilmuan yang dimilikinya dalam berbahasa begitu padat.
Dunia harus tau bahwa buku berjudul Diary Azhari: Menyurati Generasi ini begitu ciamik dalam menarasikan suatu bahasa yang dibumbui dengan berbagai aneka peristiwa penting dalam peradaban manusia seperti Peradaban Yunani Kuno hingga Peradaban Mesir Kuno yang pernah menjadi peradaban besar sepanjang sejarah manusia.
Sebagai pembaca, aku merasa seakan sedang diceritakan, disurati, bahkan diajak oleh Faris merenungi peradaban-peradaban besar itu dengan tadabbur yang benar dan mendalam agar dapat memetik suatu hikmah daripadanya. Sehingga, aku tidak keliru mana peradaban sesungguhnya yang dapat memberikan sumbangsih besar bagi manusia dan kemanusiaan dalam puzzle kehidupan ini. Aku sebut puzzle karena memang Faris juga seakan sedang menyusun puzzle-puzzle peradaban kuno hingga masa kini dengan pendekatannya sendiri yang luar biasa. Puzzle-puzzle itu aku coba analogikan dan aku dapati dari semula ia menuliskan judul Imigran Impian sebagai awwalan dalam daftar judul bukunya dan diakhiri dengan judul Hari Seorang Da’i.
Dengan bahasa yang mudah dipahami, Buku Diary Azhari: Menyurati Generasi ini sesungguhnya sebagai representasi dari pesan-pesan hikmah atau bahasa konotasi yang diramu sedemikian rupa dalam bingkai puzzle peradaban bernuansa dakwah oleh Faris secara runut dengan kronologi-kronologi menarik pada masa lampau hingga masa kini.
Betapa terbayangkan, bahasa yang diramunya itu memantik suatu generasi untuk dapat berpikir dan belajar dari suatu hikmah kehidupan sehingga peranan ulul albab itu semakin terasa dalam relung yang terdalam yang kemudian diaplikasikan dalam keseharian. Sehingga, generasi saat ini atau bahkan generasi mendatang dapat merasa dicerahkan oleh pemikiran-pemikiran lurus ala Faris dengan pesan-pesan tarbiyatul islamiyah yang menjadi andalannya dalam menulis.
Banyak di luaran sana insan yang dapat berbicara di hadapan umum, beretorika, atau bahkan sering dikenal dengan public speaking, namun dari Buku Diary Azhari: Menyurati Generasi ini aku temukan dan aku kian dibuat paham betapa urgensi statement dari seorang H.O.S Tjokroaminoto yang menuturkan kata secara shahih dengan berujar bahwa, “Jika ingin menjadi seorang pemimpin maka berbicaralah seperti orator dan menulislah seperti seorang wartawan.” Dalam konteks buku ini, aku semakin paham bahwa Faris tak hanya sedang beretorika, namun ia sedang berdialektika dengan bahasa dakwahnya kepada umat atau kepada generasi harapan khoiru ummah yaitu al- Islam dusturuna.
Buku Diary Azhari: Menyurati Generasi betul-betul bisa menyulap pembaca agar mau berlama-lama duduk dengannya dan meluangkan waktu bersamanya yang kemudian tenggelam dalam lautan hikmah yang dalam, termasuk aku yang sudah berhasil dibuat betah untuk berlama-lama dengan buku tersebut. Dari buku ini, aku belajar bahwa mencerahkan pemikiran umat itu dapat dilakukan dengan dialektika dan retorika yang renyah dan let it flow sehingga mudah dicerna oleh suatu generasi agar dapat memetik buah yang manis berupa hikmah. Sekali lagi, aku tegaskan bahwa aku merasa seakan sedang membaca surat dari seorang penulis kawakan atau justru da’i kondang dari segala sesuatunya yang terungkap dalam kalimat nahnu du’at qobla kulli syai’in yang kemudian suatu ketika ia akan menjadi al- Mujadid atau pembaharu yang akan menghembuskan nafas segar bagi umat, bangsa, negara, bahkan dunia.










