oleh

Tim JSH : 65 Persen Aduan Soal Covid-19 Ternyata Hoaks

BANDUNG- Tim Jabar Saber Hoaks (JSH) menyebut jika 65 persen atau 1.855 aduan soal Covid-19 merupakan berita bohong atau hoaks. Akibatnya, kepanikan warga akibat pandemi meningkat.

Koordinator JSH Retha Aquila Rahadian mengatakan,  persebaran hoaks tentang Covid-19 tergolong cepat karena beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan.

“Setelah kami klarifikasi, 1.855 aduan adalah hoaks. Sisanya benar. Puncak aduan ada di bulan Maret. Untuk April dan Mei sudah turun. Juli sudah mulai melandai,” kata Retha, kepada wartawan Rabu (22/7/2020).

Menurut Retha, tema hoaks terus berganti dari waktu ke waktu. Jika pada awal pandemi hoaks membicarakan soal kebijakan karantina wilayah atau lockdown, saat ini hoaks didominasi terkait penanganan Covid-19. Salah satunya hoaks penyemprotan racun pembasmi Covid-19 melalui helikopter.

Baca Juga  Wali Kota Serang Optimis 'Hatinya' PKK Kota Serang Juara Pertama Nasional

“Masyarakat harus lebih teliti dan kritis. Kritis dalam arti penasaran. Apakah informasi ini benar atau tidak. Kemudian, jangan sembarang meneruskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya,” ucapnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) Santi Indra Astuti mengatakan, dampak buruk dari hoaks adalah pertama, merusak ekosistem informasi yang memicu kebingungan di masyarakat. Sebab, masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang valid dan tidak.

“Belakangan ketahuan informasinya tidak valid alias hoaks. Tapi, energi terlanjur tercurah untuk mengurusi informasi yang tidak benar,” kata Santi.

Baca Juga  Fatayat NU Kota Serang Dilantik, Perluas Peran Perempuan Muda Nahdliyin

Santi menyatakan, hoaks dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan, khususnya terkait Covid-19.

“Dia menolak untuk berobat karena percaya pada hoaks. Hoaks membuat orang mengambil keputusan yang salah dan berakibat fatal bagi hidupnya,” ucapnya.

Santi memberikan cara mengatasi hoaks. Pertama, berhati-hatilah dengan narasi yang provokatif dan berlebihan. Hoaks kerap menggunakan kalimat-kalimat sensasional dengan maksud mendiskreditkan satu pihak.

Karena itu, kata dia, masyarakat sebaiknya mencari informasi lain yang serupa dari situs daring resmi atau media arus utama. Ciri hoaks lainnya adalah ajakan untuk memviralkan. Setelah itu, lanjutnya, validasi atau verifikasi informasi.

Baca Juga  Kabar Duka, Seorang Awak Kapal Hilang di Perairan Salira Saat Pulang Melaut

“Informasi itu bisa dibuktikan atau tidak. Ada sumbernya atau tidak. Biasanya kalau hoaks itu menyertakan link. Cek link-nya. Apakah memang seperti itu,” katanya.

Santi mengatakan, hoaks soal Covid-19 harus dilawan bersama-sama. Semua masyarakat dapat menjadi hoaks buster dengan melakukan klarifikasi manakala melihat hoaks tersebar di media sosial atau aplikasi percakapan.

“Kalau lihat hoaks, jangan diam saja, tapi laporkan dan klarifikasi. Jadi, tidak ada gunanya, kita tahu informasi ini bohong, tapi itu hanya berhenti pada diri sendiri. Kita harus mengimbangi hoaks dengan mempublikasikan hasil klarifikasi hoaks yang beredar,” katanya. (Ahmad Syukri/inilahnews.com)

Komentar

News Feed