JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, Siti Nadia Tarmizi menyebut, 1,1 dosis vaksin AstraZeneca telah didistribusikan ke tujuh provinsi di tanah air yaitu, Jawa Timur, DKI Jakarta, Bali, NTT, Kepulauan Riau, Maluku, dan Sulawesi Utara,.
Menurut Nadia, sebanyak 1,1 juta dosis tersebut seluruhnya akan digunakan untuk vaksinasi Covid-19 dosis pertama.
Hal tersebut menyesuaikan masa kedaluwarsa dari 1,1 juta dosis vaksin itu yang akan jatuh tempo pada akhir Mei 2021.
Nadia juga mengatakan, untuk penyuntikan dosis kedua, akan menggunakan vaksin AstraZeneca yang akan kembali didatangkan pada April 2021.
Vaksin AstraZeneca sudah mulai digunakan untuk vaksinasi Covid-19 pada Senin (22/3/2021).
Vaksin AstraZeneca dan Lokasi Produksinya
Pengembangan vaksin AstraZeneca telah dimulai sejak awal pandemi 2020 lalu. Universitas Oxford bekerja sama dengan perusahaan Inggris-Swedia, AstraZeneca, mengembangkan vaksin Covid-19 bernama resmi AZD1222. Pengembangan itu ditangani Vaccitech, anak perusahaan AstraZeneca.
Pegembangan vaksin AstraZeneca menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (ChAdOx 1). Singkatnya, ia dikembangkan dari virus flu simpanse (adenovirus) yang dapat menyampaikan instruksi ke sel tubuh manusia agar melawan virus penyebab Covid-19.
Mengutip keterangan WHO, vaksin AstraZeneca yang diberikan 2 dosis dengan interval 8-12 pekan memiliki tingkat efikasi (kemanjuran) 63,09 persen untuk menangkal infeksi Covid-19.
Adapun berdasar laporan The New York Time, efikasi vaksin AstraZeneca, yang diberikan dua dosis dengan interval 12 pekan, bisa mencapai 82,4 persen. Kesimpulan itu berdasar analisis data yang dirilis oleh AstraZeneca pada awal Februari 2021.
Vaksin AstraZeneca juga telah disetujui oleh WHO untuk masuk dalam Emergency Use Listing. Ia termasuk vaksin kedua yang masuk daftar EUL WHO setelah vaksin Pfizer.
Pada 15 Februari 2021, WHO memasukkan dua varian vaksin AstraZeneca, yakni yang diproduksi AstraZeneca-SK Bioscience (Korea Selatan) dan Serum Institute of India, dalam daftar penggunaan darurat (EUL).
Kedua versi tersebut sekaligus diizinkan untuk didistribusikan melalui fasilitas COVAX, sebuah kerja sama multilateral untuk memastikan semua orang di dunia bisa menerima vaksin Covid-19. (*/red)










