oleh

SSAB Mengumumkan Tekadnya Mencapai Target Luar Biasa Menjadi Produsen Baja Pertama Di Dunia

Jakarta – Produsen dan pemasok baja terkemuka di dunia SSAB mengumumkan tekadnya mencapai target luar biasa—menjadi produsen baja pertama di dunia yang memakai teknologi HYBRIT untuk memasarkan produk baja yang bebas dari energi fosil.

Telah tersedia pada 2021, SSAB akan mengirimkan produk baja yang dibuat dengan hidrogen sebagai purwarupa untuk klien. Pada 2026, SSAB akan mulai menjual baja yang bebas energi fosil dengan skala komersial.

Ketika emisi karbondioksida diperkirakan mencapai 1,5 miliar ton pada 2021, dunia semakin memerlukan proses produksi yang lestari.

Biasanya, baja diproduksi melalui proses manufaktur yang sarat akan energi. Menurut International Energy Agency, produksi baja membutuhkan 8% dari volume permintaan energi global dan menghasilkan 7% emisi karbondioksida global.

Itu sebabnya, SSAB telah merintis program global untuk menjadi perusahaan yang sepenuhnya bebas dari energi fosil. Dengan reputasi dan kredibilitasnya, SSAB akan memimpin dekarbonisasi di industri baja dan menjadi produsen baja pertama yang bebas dari energi fosil.

Baca Juga  BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang Gandeng SMSI Banten, Sosialisasikan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Mulai Juni, program global ini mulai dijalankan SSAB di Swedia, Finlandia, dan Amerika Serikat. Setelahnya, program ini akan digelar secara global.

Inovasi industri yang orisinal

Program SSAB ini berawal dari proses produksi baja terbaru yang berbasis teknologi. Alih-alih bahan bakar fosil, proses manufaktur memakai hidrogen. Dengan proses tersebut, SSAB akan membuat berbagai produk, termasuk pelat baja gulungan (hot rolled steel sheet) dan gulungan besi (coil), yang tak hanya memiliki mutu terbaik, namun juga mengurangi jejak karbon.

“Teknologi baru kami yang penuh terobosan dan bebas dari energi fosil adalah inovasi orisinal pertama dalam produksi baja dalam beberapa abad terakhir,” kata John KuanCountry ManagerAsia Tenggara, SSAB. “Pelanggan SSAB akan memperoleh baja premium dan berkekuatan tinggi dengan kualitas yang sama, namun telah disesuaikan untuk masa depan yang lebih lestari.”

Baca Juga  Jasa Raharja Tangerang dan Bapenda Kota Tangerang Optimalkan Kepatuhan Pajak Kendaraan Bermotor

Pengurangan emisi karbon sangat vital, sebab tingkat permintaan baja diprediksi meningkat drastis di beberapa negara selama bertahun-tahun mendatang. Di Indonesia, misalnya, penyedia informasi pasar S&P Global Platts melaporkan, volume permintaan baja akan mencapai 22,7 juta metrik ton pada 2024, atau 50% lebih besar dari angka pada 2018.

Sebagian besar permintaan ini berasal dari sektor konstruksi, namun 38% di antaranya dari sektor-sektor noninfrastruktur, termasuk pertambangan. Di sektor ini, sejumlah produk SSAB seperti wear plate Hardox® telah banyak dipakai perusahaan-perusahaan Indonesia.

Transparansi yang lebih baik

Demi menjamin program pelestarian alam kepada klien dan publik, SSAB telah berfokus pada Environmental Product Declaration atau EPD untuk seluruh produknya. EPD adalah dokumen yang diverifikasi secara independen dan menjelaskan informasi tentang dampak lingkungan hidup dari sebuah produk.

Baca Juga  Penghilangan Nyawa Jurnalis di Gaza, dari Tuduhan Terorisme hingga Manipulasi Pemberitaan

Dengan EPD, klien bisa mengamati wear plate Hardox® dan membandingkan jejak karbonnya dengan produk-produk buatan perusahaan lain. Meski demikian, SSAB selalu memiliki emisi CO2 yang terendah di industri baja.

Bermitra dengan produsen baja terbaik

SSAB menyadari bahwa produksi baja yang sepenuhnya bebas dari energi fosil membutuhkan waktu. SSAB juga telah bermitra dengan sejumlah produsen terkemuka di sektor-sektor lain, seperti Volvo. Produsen mobil asal Swedia ini dan SSAB bermitra untuk memproduksi mobil-mobil pertama di dunia dengan baja yang bebas dari energi fosil.

Bahkan, Volvo telah berencana memproduksi mobil konsep dan mesin pertama dengan baja SSAB yang dibuat dengan Hidrogen pada 2021. Tahap produksi berskala kecil akan dilakukan pada 2022, lalu diikuti tahap produksi massal dalam beberapa tahun berikutnya. (*/cr3)

Sumber: satubanten.com

News Feed