CEO Jakarta Global Tiket Network (Tiket.com) George Hendrata mengatakan pasar online travel agent (OTA) Indonesia di kawasan ASEAN sangat menjanjikan. Menurut laporan penelitian Google dan Temasek, nilai ekonomi digital ASEAN diperkirakan mencapai $120 miliar tahun ini.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 43% disumbangkan layanan transportasi, makanan, OTA, dan media digital. Menurut George Hendrata, nilai itu, akan terus membengkak dan menyentuh US$ 300 miliar pada 2025 sebelum menembus US$ 1 triliun pada 2030.
Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa Indonesia berperan besar di bisnis ini untuk kawasan Asia Tenggara. Indonesia adalah pasar e-commerce terbesar ASEAN sekaligus OTA, dengan kontribusi 40%. Bisnis OTA di Indonesia berpeluang terus tumbuh, seiring geliat pariwisata. Berdasarkan data IATA, Indonesia akan berada di peringkat empat dunia pada 2035 dilansir beritasatu.com.
“Ini sangat menantang dan Tiket.com siap mendukung prediksi tersebut. Sebab, semakin banyak turis, semakin banyak devisa yang masuk. Pariwisata Indonesia sangat berpeluang tumbuh pesat ke depan. Sebab, kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto (PDB) masih kecil, sebesar 6%, di bawah Thailand 20% serta Singapura dan Tiongkok sebesar 12%,” kata George dalam Beritasatu Economic Outlook 2022 bertema Akselerasi Pembangunan Pariwisata 2022 yang digelar BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Selasa (23/11/2021).
Ia menambahkan, pariwisata akan berdampak besar terhadap ekonomi pusat dan daerah, seiring langkah pemerintah pusat dan daerah mengendalikan pandemi Covid-19. Karena memberikan rasa aman masyarakat untuk berpergian dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan.
Sebelumnya, sektor pariwisata, termasuk OTA sempat terpukul hebat pandemi Covid-19. Ini bisa dilihat dari amblesnya jumlah penumpang udara pada Mei 2020, ketika pandemi mulai merebak dan sejumlah pemerintah daerah menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
“Hal itu juga berimbas terhadap Tiket.com. Perusahaan ini bahkan harus menerima lonjakan refund hingga 50 kali. Akan tetapi, permintaan ini tetap kami layani. Hingga akhirnya bisnis OTA kembali membaik memasuki 2021. Namun, begitu terjadi gelombang kedua Covid-19, bisnis kembali terkontraksi. Untungnya, saat ini, bisnis OTA sudah membaik. Kami yakin kuartal IV-2021, bisnis OTA tumbuh, apalagi tahun depan,” yakinnya.
Selain bisnis OTA, okupansi hotel yang sempat melorot April 2020 juga mulai membaik. Saat ini, rata-rata okupansi hotel mencapai 40%, mendekati level 2019 sebesar 55%. Okupansi dapat naik lagi, begitu Bali mulai diserbu turis asing dan lokal. Dia mengapresiasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 yang cukup tinggi.
“Targetnya, kuartal I-2022, vaksinasi sudah mencapai 100%. Kami berharap hal ini akan mendorong orang berpergian lagi,” kata George yang ikut mendukung pemulihan sektor pariwisata nasional.
Dengan pulihnya sektor pariwisata, menurutnya banyak orang mulai memesan tiket pesawat, hotel, dan perjalanan lainnya. Saat ini, Tiket.com sendiri sudah bekerja sama dengan 90 maskapai domestik dan global, 175 mitra rental kendaraan, jutaan kamar hotel, 10.000 vila, atraksi, dan acara. Dengan modal ini, Tiket.com siap membantu memacu kembali sektor pariwisata.(*/cr2)










