oleh

Di Tengah Pandemi COVID-19, Pelaku Pariwisata Tidak Menyerah

-Tak Berkategori

Jakarta – Pandemi Covid-19 yang mengakibatkan turunnya sektor pariwisata ternyata tidak membuat pelakunya menyerah berbagai upaya terus dilakukan untuk mencari peluang, kata Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI), Maulana Yusran.

Meski berat, pelaku industri pariwisata mulai beradaptasi dengan tuntutan keadaan dan mempersiapkan diri demi menghadapi era pasca pandemi melalui penguatan standar kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan, kata Maulana dalam keterangan tertulis, Sabtu..

Maulana mengatakan terkait hal itu sudah ada sertifikat yang disebut sebagai  CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Environment Sustainability).

Christine Hutabarat, Direktur Pengembangan Bisnis PT Hotel Indonesia Natour (Persero) mengatakan CHSE bukanlah sekadar jargon, namun sudah jadi identitas dalam melakukan pelayanan di industri pariwisata. Sehingga nantinya bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat, sekaligus mengedukasi protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah.

Baca Juga  Masyarakat Harus Bawa Bukti Sudah Suntik Vaksin Covid-19 untuk Dapatkan Layanan Adminduk

“Kalau protokol kesehatan, kita di industri hotel dan restoran termasuk yang paling berkomitmen. Di awal Maret 2020 saja, kita sudah menyusun standar protokol kesehatan. Perubahannya sampai tiga kali menyesuaikan Surat Edaran Menteri Kesehatan dan standar WHO. Kami justru mendukung PPKM Mikro yang dijalankan saat ini,” ungkap Maulana Yusran di Dialog Publik yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP.

Selain upaya-upaya yang dilakukan melalui beradaptasi dengan keadaan, stimulus dari Kemenparekraf sejak 2020 berupa Hibah Pariwisata maupun bantuan lainnya diakui sangat membantu industri sektor pariwisata untuk bertahan.

“Stimulus dari pemerintah kami gunakan untuk beberapa hal, selain membantu membiayai operasional kami di masa permintaan yang rendah, juga membantu meningkatkan kualitas dari implementasi CHSE dan pelatihan tenaga kerja di HIN,” terang Christie.

Baca Juga  Sejumlah Warga Perumahan Sukawana Curug Keluhkan Bau Kandang Ayam

Seperti diketahui, Pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi. Dalam kondisi terhimpit pandemi COVID-19, upaya-upaya mempertahankan dan membangkitkan sektor ini terus dilakukan.

Seperti yang dialami PT. Hotel Indonesia Natour (Persero) harus merasakan turunnya tingkat hunian kamar hotel pada tahun 2020 lalu hingga 67 persen dari 2019.

“Tahun lalu tingkat hunian kita hanya sekitar 27 persen sepanjang tahun. Apalagi pendapatan kita 60-70 persen dari Bali, dampak pandemi ini sangat luar biasa bagi industri perhotelan,” kata Christine.

Kondisi yang terjadi juga dirasakan pelaku bisnis kreatif yang jadi bagian dari ekosistem yang ada di lokasi pariwisata seperti di Bali.

Cokorda Istri Julyana Dewi, pebisnis kerajinan perak dan tas kulit Cyn dari Gianyar, Bali menyampaikan kami tetap beradaptasi agar teman-teman pelaku industri kreatif di lokasi pariwisata bisa menyesuaikan karyanya dengan keadaan seperti sekarang ini.

Baca Juga  Pilkades di Kabupaten Serang Diundur Karena Kasus Covid-19

“Kerajinan perak yang dulunya dipandang perhiasan saja, diaplikasikan Juliyana agar mudah diterima konsumen di masa pandemi lewat mengkombinasikannya dengan tas kulit,” ujarnya.

Juliyana mengakui bahwa stimulus dan upaya yang dilakukan pemerintah turut mendukungnya bertahan di tengah situasi sulit.

“Kami banyak tertolong oleh pemerintah yang sering mengadakan pelatihan pemasaran produk secara digital. Kita tentu harus terus beradaptasi dengan keadaan pandemi seperti saat ini. Terutama untuk membangkitkan kembali semangat pengrajin perak untuk melewati pandemi ini secara bersama,” pungkas Juliyana. (*/cr3)

Sumber: antaranews.com