PANDEGLANG – Untuk kali pertama kali, PGRI Pandeglang menggelar Festival Cipta Seni dan Ganda Seka yang dipusatkan di Graha Pancasila Pandeglang, Selasa-Rabu (24-25/11/2020). Ajang ini memiliki misi untuk melestarikan budaya sunda lewat media sebuah festival, sehingga seni tembang sunda tidak padam tergerus zaman.
Festival diikuti perwakilan PGRI dari tiap kecamatan, dengan membawakan lagu wajib “Berkah Dayeuh Pandeglang” ciptaan Ujang Kaharudin, mantan Kepala Sekolah SDN Pandeglang 4. Selain lagu wajib, peserta juga harus menyanyikan lagu sunda pilihan dari Jawa Barat seperti Tibelat, Potret Manehna, Kembang Impian, Lembur Kakasih, dan Iraha Tepang.
Surahmat, Ketua Bidang Seni dan Budaya PGRI Pandeglang menargetkan agenda festival ini menjadi agenda rutin tahunan, sebagai ajang untuk mengembangkan potensi seni daerah sunda. “Ini baru pertama kali, namun kita targetkan kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan. Lomba cipta lagu dan duet tembang sunda ini baru diikuti 13 peserta dari perwakilan kecamatan karena kondisi dan mepetnya waktu persiapan. Mudah-mudahan dengan festival ini tembang dan budaya sunda tetap langgeng dan berkembang,” terang Surahmat.
“Cipta lagu sunda ini mengangkat kearifan budaya lokal, kuliner dan wisata. Sedangkan duet tembang sunda atau sekar ganda meliputi penguasaan teknik, vocal, penampilan dan ekspresi,” sambungnya.
Enceng Tiswara Jatnika, salah satu juri festival ini, mengaku bangga dengan digelarnya festival. Namun lomba cipta lagu dan ganda sekar atau duet tembang sunda, membutuhkan persiapan waktu yangg cukup. “Memadukan dua karakter suara tentu lebih berat dibandingkan dengan solo vokal. Kadang salah satu suaranya mumpuni, tapi pasangannya kurang, atau salah satu pasangan ada yang belum hapal rumpaka sehingga mempengaruhi penampilannya, ujar Enceng Tiswara.
Ujang Kaharudin, pencipta lagu “Berkah Dayeuh Pandeglang” mengharapkan festival cipta lagu yang mengangkat tema budaya lokal Pandeglang, bisa berkelanjutan dan bisa menjadi ajang promosi daerah. “Selain budaya lokal, panorama atau alam, dan kuliner seperti kue balok, pasung dan lainnya diharapkan bisa diangkat menjadi tembang atau kawih yang bisa juga digunakan untuk promosi daerah,” harap Ujang. (Res/Red)










