PANDEGLANG – Menjadi daerah Desa Tertinggal Ramea Kecamatan Mandalawangi Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, tidak menyurutkan masyarakatnya untuk juga bangkit dalam pencapaian peningkatan taraf perekonomiannya, terdapat potensi Tanaman Aren atau Kaung yang merupakan salah satu pohon sebagai bahan baku pembuatan aci/sagu aren ternyata masih cukup banyak dijumpai di daerah Desa Ramea ini.
Hasil pemantauan Bungasbanten.id -Group siberindo.co “ di daerah yang terploksok ini dijumpai kultur masyarakat pedalaman yang masih sangat kental budaya kebersamaan dan saling bahu membahu tidak hanya dalam segi gotong-royongnya akan tetapi juga dalam maningkatkan pendapatan masyarakatnya.
Adalah Asmawi, dan Sartinah, sejak 5 tahun silam menggali potensi masyarakat yang ada di desa Ramea untuk pembuatan dan pengolahan bahan makanan kolang kaling yang merupakan makanan khas dari buah aren
” Sartinah (34) saat ditemui bungasbanten.id, di kediamannya yang juga lokasi usahanya, menyampaikan ; “Saya dan suami saya sudah lebih kurang empat tahun usaha ini, kami perkerjakan ibu-ibu yang memang mau kerja, karena lumayan, dalam sehari bisa buat tambah-tambah biaya hidup dikampung, maklum kami jauh dari kota, jadi paling ibu-ibu bisanya kerja semapunya yah hanya seperti ini, dan inipun sangat membantu mereka “ Ujar Sartinah,kemarin.
Salah satu pekerja Mbok Sukah (58) dikonfirmasi di lokasi kerjanya tempat pembuatan dan pengolahan makanan kolang kaling “ Ia menyampaikan ; “yah Alahamdulillah… kalo gak ada kerja seperti ini mbok gak bisa cari uang buat makan, Dengan adanya pekerjaan ini kan lumayan mbok bisa buat kebutuhan sehari-hari hasilnya..” ungkapnya.
Senada Ibu Rokayah (36) yang juga pekerja warga setempat menyampaikan hal sama, ; “ lumayan hasilnya … buat bantu-bantu suami, maklum kami orang kampung, suami hanya punya penghasilan yang pas-pasan, kami ya harus bisa bantu buat biaya tambahan, buat kebutuhan hidup sehari-hari, bantu biaya sekolah anak, jajan anak yah pokoknya syukuri aja dech…” demikian ungkapnya.
“ Lebih lanjut baik Asmawi maupun Sartinah menyampaikan masyarakat yang dapat ditampungnya untuk pengolahan bahan makanan kolang kaling ditempatnya terdapat 15 orang pekerja ibu-ibu rumah tangga dengan harga Rp 1.500,- per liter hasil yang didapatnya, kisarannya bisa mencapai 20 sampai 25 liter per orang dan 3 orang laki-laki yang dibayar khusus harian olehhnya.” Sementara hasil dari bahan makan olahan kolang kaling miliknya dikirim ke penampungnya di wilayah Desa Kadubungbang Kecamatan Cimanuk kabupaten Pandeglang, untuk satu kali pengirman, ternyata di Desa Ramea ini bukan hanya pasangan ini yang melakukan usaha pengolahan bahan makanan kolang kaling, dibeberapa tempat ternyata juga ada sekita 5 titik lokasi yang melakukan usaha yang sama.
Hanya saja sayangnya dari beberapa tempat lokasi tersebut, mereka kesulitan untuk lebih mengembangkan kegiatannya, yang jelas-jelas sangat membantu kehidupan peningkatan perekonomian masyarakat Desa Ramea tersebut,” Pasalnya daerah ini merupakan salah satu Desa daerah tertinggal yang ada di Kabupaten Pandeglang, bantuan peningkatan dari pemerintah masih sangat diperlukannya, sementara tahun lalu sudah ada peningkatan infrastruktur jalan yang juga masih butuh berkelanjutan, dan bantuan untuk mendorong adanya peningkatan perekonomian masyarakatnya melaui usaha kecil yang saat ini ada dan berjalan di desa tersebut. *(SYAROH/ YN)










