oleh

Sejumlah Guru di Tangerang Keluhkan Dua Skema Mengajar Secara Bersamaan

Sejumlah guru di Kota Tangerang mengaku kewalahan untuk menjalankan dua skema mengajar secara bersamaan, yakni daring dan luring. Diketahui, SMP dan SMA di Kota Tangerang saat ini telah menjalankan proses pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Dengan kapasitas pelajar yang mengikuti PTM masih terbatas, hampir semua sekolah tetap mempertahankan pembelajaran secara daring agar kurikulum pendidikan dapat diterima seluruh siswa secara merata.

Salah seorang guru, Widiastuti mengaku mulanya merasa asing dan cukup kewalahan dengan dua skema pembelajaran sekaligus. Konsentrasinya terpecah lantaran harus mengajar di depan kelas, dan secara bersamaan mengajar melalui daring. Apalagi, waktu yang disediakan satu jam pelajaran hanya 30 menit.

“Satu jam pembelajaran itu cuma 30 menit. Makanya kadang suka terpecah konsentrasinya karena harus mengajar langsung di depan kelas dan di waktu yang bersamaan juga mengajar di aplikasi Gmeet,” ungkap Widi saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (29/9/2021).

Seiring berjalannya waktu, Widi mengaku mulai terbiasa dengan dua skema pembelajaran tersebut. Meski demikian, Widi mengungkapkan, terkadang guru hanya menggunakan fasilitas pribadi lantaran fasilitas yang disediakan sekolah jumlahnya terbatas.

“Tetapi, demi kemajuan pendidikan kita tidak masalah,” ungkapnya.

Baca Juga  Wawako Tangerang Lantik 63 Aparatur ASN

Widi yang merupakan guru SMA 2 Kota Tangerang memiliki kiat tersendiri untuk membangun suasana pembelajaran yang menarik bagi siswa, terutama yang mengikuti pembelajaran secara daring. Dikatakan, guru harus mampu menerangkan pelajaran sesederhana mungkin agar anak didik yang mengikuti pembelajaran secara daring tidak bosan. Selain itu, Widi mengaku berupaya membangun diskusi secara interaktif.

“Guru harus punya cara agar dua skema yang dijalankan bisa diterima dengan baik, misalnya membuat metode pembelajaran yang sesederhana mungkin, tidak menerangkan pelajaran yang banyak waktu. Kalau pun ada diskusi kita harus bisa libatkan dua skema pendidikan baik yang belajar di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Baca Juga  Andai Tau Duluan, Peserta Dilayani Sepenuh Hati di Hari Pelanggan Nasional 2025

Widi mengungkapkan PTM terbatas yang sudah berjalan di sekolahnya selama sekitar sebulan disambut gembira oleh anak didik, meski dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Pastinya anak-anak dan juga guru-guru senang bisa masuk sekolah lagi. Selama sebulan ini alhamdulillah semuanya berjalan lancar, kalau pun ada kendala sejauh ini paling cuma yang belajar daring kadang suka terkendala jaringan internet, tapi kalau yang lain seh berjalan lancar,” ungkapnya. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed