Jakarta – Tujuh kecamatan di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah (Kalteng) terendam Banjir menyusul curah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut. Ketujuh kecamatan meliputi Kecamatan Katingan Hulu, Kecamatan Marikit, Kecamatan, Kecamatan Sanaman Mantikei, Kecamatan Katingan Tengah, Kecamatan Pulau Malan, Kecamatan Tewang Sangalang Garing, dan Kecamatan Katingan Hilir.
“Kerugian materiel yang ditimbulkan atas kejadian bencana tersebut masih dalam pendataan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Katingan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari melalui keterangan tertulis yang diterima beritasatu.com, Jumat (12/11/2021).
Namun, kata Abdul Muhari, hingga peristiwa ini diberitakan, belum ada laporan tentang adanya korban jiwa akibat bencana alam tersebut.
Banjir dengan tinggi muka air (TMA) antara 30-50 sentimeter merendam wilayah itu sejak Rabu (10/11/2021) pukul 19.00 WIB, dan hingga Jumat ini Banjir belum surut bahkan dilaporkan tinggi muka air mengalami peningkatan.
Abdul Muhari mengatakan, BPBD Kabupaten Katingan masih terus berkoordinasi dengan lintas instansi terkait upaya percepatan penanganan Banjir Kabupaten Katingan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan prakiraan cuaca yang menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, sampai Kamis (18/11/2021) dilansir beritasatu.com
BMKG juga menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia juga akan mengalami fenomena La Nina hingga Februari 2022, yang mana pada kondisi itu terjadi peningkatan intensitas hujan dan dapat berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir, Banjir bandang, dan tanah longsor.
Menyikapi adanya prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG tersebut, kata Abdul Muhari, BNPB mengimbau seluruh pemangku kebijakan yang ada di daerah agar mengambil langkah mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan.
“Upaya pencegahan itu harus dilaksanakan melalui sinergitas seluruh unsur mulai dari pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa. Hal itu sebagaimana yang menjadi arahan Presiden Joko Widodo, bahwa pencegahan dan mitigasi harus diutamakan dalam penanggulangan bencana,” demikian Abdul Muhari. (*/cr2)










