oleh

Ketika Anak Krakatau Bicara, Apakah Kita Masih Mampu Mendengar Bahasa Alam?

Oleh: Engkus Kuswarno (Profesor Sains Komunikasi Unpad)

Gunung Anak Krakatau (AK) kembali berbicara. Bukan melalui kata-kata, tentu saja. AK berbicara melalui gemuruh, getaran, lava, abu vulkanik, cahaya merah dari kawah, dan perubahan-perubahan yang ditangkap oleh instrumen para ahli. Pada awal September 2026, AK mengalami episode Erupsi menerus sekitar 25 jam. Sebelumnya, aktivitas vulkaniknya telah meningkat sejak Juli dan statusnya berada pada Level III atau Siaga.

Bersamaan dengan itu, publik dikejutkan oleh kenyataan bahwa sejumlah gunung api lain di Indonesia juga mengalami Erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan. Enam gunung api—Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung—tercatat mengalami Erupsi pada 31 Agustus 2026.

Secara ilmiah, kita harus berhati-hati. PVMBG menegaskan bahwa keenam gunung tersebut tidak saling memicu. Masing-masing memiliki sistem vulkaniknya sendiri. Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki 127 gunung api aktif, sehingga kemunculan Erupsi pada waktu yang berdekatan bukan berarti seluruhnya digerakkan oleh satu mekanisme bawah tanah.

Tetapi pertanyaan saya bukan pertanyaan vulkanologi. Pertanyaan saya adalah pertanyaan komunikasi, yakni Jika alam terus-menerus mengirimkan tanda, mengapa manusia merasa dirinya tidak perlu mendengarkan?

Di sinilah AK menjadi lebih dari hanya sebagai objek geologi. AK dapat menjadi objek refleksi filosofis.

Alam bukan hanya objek yang diam

Cara berpikir modern sering menempatkan manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek. Manusia mengamati gunung, mengukur suhu, mencatat deformasi, membaca seismograf, menghitung probabilitas erupsi, kemudian membuat prediksi.

Semua itu penting, bahkan sangat penting. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia akan jauh lebih rentan menghadapi bencana. Karena itu, setiap peringatan PVMBG, setiap data seismik, setiap citra satelit, setiap zona bahaya dan setiap protokol evakuasi harus dihormati.

Tetapi apakah hubungan manusia dengan alam berhenti sampai di sana? Tentu Tidak. Secara fenomenologis, alam bukan hanya sesuatu yang kita lihat. Alam adalah sesuatu yang kita alami.

Gunung meletus bukan hanya angka pada grafik seismograf. Gunung meletus hadir sebagai pengalaman manusia dalam kecemasan, keterkejutan, ketidakberdayaan, kesadaran akan keterbatasan, sekaligus kesadaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupan.

Di titik inilah muncul gagasan tentang metafisika komunikasi. Komunikasi tidak harus selalu dipahami sebagai pertukaran pesan antarmanusia. Komunikasi dapat dipahami secara lebih mendasar sebagai hubungan antara sesuatu yang mengungkapkan dan sesuatu yang mampu menangkap makna.

Gunung tidak berbicara dengan bahasa manusia, tetapi manusia dapat membaca gunung. Gempa adalah tanda. Asap adalah tanda. Perubahan suhu adalah tanda. Lava adalah tanda. Bahkan keheningan gunung pun dapat menjadi tanda.

Dengan demikian, masalahnya bukan apakah alam berkomunikasi, melainkan apakah manusia masih mempunyai kemampuan untuk mendengarkan?

Baca Juga  Crispy Grasshopper from Gunung Kidul

Dari komunikasi alamiah menuju komunikasi transendental

Di sinilah konsep komunikasi transendental menjadi penting. Komunikasi transendental bukan komunikasi dalam pengertian teknis seperti manusia mengirim pesan kepada manusia lain, melainkan hubungan kesadaran manusia dengan sesuatu yang melampaui dirinya—dalam perspektif keagamaan, dengan Tuhan sebagai Causa Prima, sumber pertama dari keberadaan.

Alam kemudian dapat dipahami bukan sebagai Tuhan, tetapi sebagai bagian dari ciptaan yang menghadirkan tanda-tanda tentang keterbatasan manusia dan kebesaran Sang Pencipta.

Dalam perspektif seperti ini, Anak Krakatau tidak perlu diperlakukan sebagai “pesan Tuhan” secara harfiah. Kita tidak memiliki dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa suatu Erupsi tertentu merupakan hukuman Tuhan terhadap kelompok manusia tertentu.

Yang mungkin dilakukan adalah sesuatu yang jauh lebih ensensial yakni menjadikan peristiwa alam sebagai momentum untuk membaca kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Inilah perbedaan antara klaim kausal dan refleksi transendental. Klaim kausal mengatakan bahwa manusia melakukan penyimpangan, lalu gunung meletus karena dosa manusia.

Refleksi transendental mengatakan bahwa manusia menyaksikan gunung meletus, kemudian peristiwa tersebut menggugah pertanyaan tentang siapa dirinya, bagaimana ia hidup, memperlakukan sesama, memperlakukan alam, dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan.

Yang pertama membutuhkan pembuktian empiris. Yang kedua merupakan wilayah refleksi filosofis dan spiritual.

Al-Qur’an dan ingatan tentang manusia yang melampaui batas

Al-Qur’an menghadirkan sejumlah kisah kaum terdahulu—kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, Luth, Fir’aun dan lainnya—yang menggambarkan hubungan antara pembangkangan manusia terhadap kebenaran dengan hadirnya kehancuran.
Kisah-kisah tersebut tidak seharusnya dibaca secara dangkal sebagai rumus mekanistik dosa (mengakibatkan) gunung meletus (lalu mengakibatkan) manusia dihukum.

Pembacaan semacam itu justru berbahaya karena mengubah wahyu menjadi pseudo-sains.

Yang lebih menarik adalah pesan moral dan ontologisnya. Manusia memiliki kecenderungan untuk menganggap dirinya pusat segala sesuatu. Ia dapat menjadi sombong karena kekuasaan, teknologi, kekayaan, pengetahuan bahkan moralitasnya sendiri.

Padahal manusia hidup dalam suatu tatanan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Di sinilah konsep fasad menjadi relevan sebagai bahan refleksi. Ketika manusia merusak tatanan moral, sosial maupun ekologis, persoalannya bukan hanya bahwa manusia “melanggar aturan”, tetapi bahwa manusia sedang merusak keseimbangan relasional yang menopang kehidupannya.

Maka alam dapat menjadi cermin. Bukan cermin yang menghukum, tetapi cermin yang memperlihatkan betapa kecilnya manusia di hadapan struktur keberadaan.

Komunikasi spiritual: ketika yang tidak kelihatan ikut hadir

Kita dapat membedakan komunikasi transendental dengan komunikasi spiritual. Komunikasi transendental bergerak secara vertikal, yaitu manusia berhadapan dengan Yang Transenden, dengan Tuhan sebagai Causa Prima.

Komunikasi spiritual memiliki cakupan yang lebih luas, yakni manusia mengalami keterhubungan dengan dimensi nonmaterial kehidupan—dengan sesama, dengan alam, dengan simbol, dengan pengalaman batin, bahkan dengan apa yang dalam berbagai tradisi disebut sebagai realitas gaib atau makhluk nonhuman.

Baca Juga  Mahasiswa Asing, Jangan Asingkan Indonesia

Namun wilayah ini harus diperlakukan secara fenomenologis, bukan secara gegabah sebagai fakta empiris.

Fenomenologi tidak pertama-tama bertanya: “Apakah pengalaman ini benar secara objektif?” Fenomenologi bertanya:

“Apa makna pengalaman ini bagi kesadaran manusia?”

Ketika seseorang berdiri di hadapan Anak Krakatau dan melihat cahaya merah menyembur dari kawah pada malam hari, pengalaman itu dapat menghasilkan rasa takut. Tetapi rasa takut dapat berubah menjadi kesadaran. Kesadaran dapat berubah menjadi kerendahan hati. Kerendahan hati dapat berubah menjadi spiritualitas, dan spiritualitas dapat mengubah cara manusia menjalani kehidupannya. Inilah komunikasi yang sering luput dari perhatian kita.

Seorang ahli geologi pernah mengingatkan saya pada sesuatu

Dalam pengalaman lapangan seorang profesor geologi yang pernah bekerja bertahun-tahun di perusahaan Jepang, terdapat suatu pengamatan yang menarik bahwa perubahan aktivitas geologi tidak selalu hadir sebagai sebuah kejadian tunggal yang tiba-tiba. Perubahan itu memiliki rangkaian gejala, peningkatan aktivitas, gempa, perubahan tertentu, dan akhirnya dapat berujung pada erupsi.

Pengamatan ilmiah seperti ini mengajarkan satu hal penting bahwa alam sering kali tidak tiba-tiba berbicara; manusialah yang sering terlambat mendengarnya.

Bukankah analogi ini juga berlaku dalam kehidupan manusia? Kehidupan sosial pun memiliki tanda-tanda. Ketika kejahatan meningkat, kebohongan menjadi kebiasaan, kekerasan dianggap biasa, korupsi kehilangan rasa malu, fitnah dan aib menjadi hiburan. Ketika manusia kehilangan empati. Ketika keserakahan menjadi ukuran keberhasilan.

Bukankah semua itu juga merupakan “seismograf” sosial? Mungkin masyarakat sebenarnya telah mengalami gempa moral jauh sebelum sebuah krisis besar terjadi.
Persoalannya adalah apakah kita mempunyai instrumen untuk membacanya?

Jangan mencari hubungan kausal yang tidak ada—carilah makna yang mungkin hilang

Di sinilah saya kira kita harus berhati-hati. Tidak terburu-buru mengatakan bahwa perilaku buruk masyarakat di sekitar Anak Krakatau menyebabkan Anak Krakatau meletus. Tidak ada dasar ilmiah untuk simpulan tersebut.

Bahkan mengenai enam gunung yang Erupsi hampir bersamaan, PVMBG secara tegas menyatakan tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh Erupsi tersebut.

Tetapi kita juga tidak berhenti pada simpulan bahwa “Ini hanya aktivitas magma.” Kalimat itu benar secara geologi, tetapi belum tentu selesai secara filosofis. Manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan keselamatan fisik. Manusia juga membutuhkan makna.

Ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan apa yang terjadi. Vulkanologi menjawab tentang bagaimana gunung itu bekerja. Mitigasi menjawab apa yang harus kita lakukan agar manusia selamat. Filsafat bertanya: Apa arti semua ini bagi keberadaan manusia? Dan spiritualitas bertanya: Apa yang seharusnya berubah dalam diri kita setelah menyaksikannya?
Semua pertanyaan dan jawaban itu tidak harus saling meniadakan. Justru semuanya sangat diperlukan.

Baca Juga  Mengenal Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Anak Krakatau dan etika mendengarkan

Mungkin inilah pelajaran paling penting dari Anak Krakatau. Alam tidak selalu membutuhkan kita untuk menaklukkannya. Kadang-kadang alam membutuhkan kita untuk mendengarkannya.

Ilmuwan mendengarkan melalui seismograf. Vulkanolog mendengarkan melalui perubahan magma dan gas. Teknologi satelit mendengarkan dari angkasa. Masyarakat mendengarkan melalui pengalaman hidupnya. Filsuf mendengarkan melalui refleksi. Dan manusia beriman mendengarkan melalui kesadaran transendental.

Semua bentuk pendengaran itu memiliki tempatnya masing-masing. Karena itu, mitigasi bencana seharusnya tidak hanya membangun teknologi peringatan dini, melainkan juga perlu membangun kesadaran dini.

Kesadaran bahwa manusia memiliki batas. Kesadaran bahwa alam bukan benda mati yang dapat diperlakukan sesuka hati. Kesadaran bahwa kehidupan sosial mempunyai hukum moral. Kesadaran bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kedewasaan spiritual. Dan kesadaran bahwa di balik seluruh kemampuan manusia untuk memprediksi, tetap terdapat misteri keberadaan yang tidak sepenuhnya dapat ditundukkan oleh manusia.

Ketika gunung berbicara

Anak Krakatau mungkin tidak sedang “menghukum” siapa pun. AK sedang menjalankan dinamika geologisnya. Tetapi manusia yang menyaksikannya dapat memperoleh hukuman lain yang jauh lebih serius yakni hukuman karena tidak belajar apa-apa dari apa yang dilihatnya.
Sebab bencana terbesar mungkin bukan ketika gunung meletus. Bencana terbesar adalah ketika manusia melihat tanda-tanda kehancuran di sekelilingnya, tetapi kehilangan kemampuan untuk berefleksi.
Anak Krakatau akhirnya menjadi semacam teks. Bukan teks yang ditulis dengan tinta, melainkan dengan api. Bukan teks yang dibaca dengan mata semata, melainkan dengan kesadaran.

AK mengingatkan bahwa manusia hidup di antara dua dunia, yaitu dunia yang dapat diukur dan dunia yang harus dimaknai.
Ilmu pengetahuan memberi kita kemampuan untuk membaca gejala.

Filsafat memberi kita kemampuan untuk mempertanyakan makna. Komunikasi memberi kita kemampuan untuk memahami relasi. Spiritualitas memberi kita kemampuan untuk menyadari kedalaman pengalaman. Dan komunikasi transendental mengajak manusia bertanya kembali tentang hubungan dirinya dengan Causa Prima.

Maka pertanyaan akhirnya bukan “Mengapa Anak Krakatau meletus?” Kita sudah memiliki para ahli untuk terus menjawabnya.

Pertanyaan yang lebih menggugah adalah “Setelah Anak Krakatau berbicara, manusia akan menjadi apa?”. Mungkin lebih ilmiah, lebih waspada, lebih rendah hati, lebih peduli kepada alam, lebih beradab kepada sesama.

Atau mungkin tetap sama—sibuk memperdebatkan siapa yang benar, menyebarkan hoaks, mencari kambing hitam, lalu kembali melupakan semuanya ketika abu vulkanik menghilang.
Jika demikian, barangkali bukan alam yang gagal berkomunikasi dengan alam, melainkan kitalah yang gagal mendengarkan.

News Feed